Breaking News
Loading...
Jumat, 05 Oktober 2012

Obrolan Kesedihan

Sepeda Tua

Pagi itu, kotaku seperti dilipat. Jalan beraspal bagai ditaburi seberkas sinar kuning keemasan yang jatuh dari selongsong langit. Sekejap, jalanan menjelma menjadi padat. Udara pagi merambatkan kehangatan. Sesekali, bunyi klakson memekakkan telinga. Hampir semua orang di jalan itu bergegas. Serupa sebuah karnaval, penduduk kota seperti berbondong-bondong bak sekawanan burung yang keluar sarang. Tampak, setiap orang yang memadati jalanan seperti dikejar sesosok bayangan hitam; seberkas bayangan yang memanjang dan selalu mengikuti derap langkah kepergian mereka ketika sinar matahari memantul di hamparan aspal.

Di jalan Kajar, jalan kecil di kota mungil yang tak terkenal itu pun mulai ditingkahi lalu lalang sepeda anak-anak sekolah, deru motor para pegawai kantor, mobil pick up yang mengangkut jambu kluthuk dan buah nangka dari gunung, truk yang memuat batu, bahkan derap andong yang merambat pelan mengantar ibu-ibu ke pasar kecamatan, sebuah kota kecil kelahiranku. 

Tapi, tidak semua warga di kota kecil itu sudah bergegas pergi. Di salah satu sudut warung kopi di pinggir jalan itu, aku duduk termangu. Sesekali, aku menatap ke arah jalanan. Ada dua sepeda yang teronggok di depan warung – sepeda onthel tua milik ayah dan sepeda Federal berwarna hijau tua yang akan kami bawa berpetualang. Segumpal resah seperti menimbun keberanianku untuk tidak menoleh lagi tatkala nanti aku menatap aspal jalanan yang cukup panjang dan berkelok yang akan aku tempuh.

Aku memang sudah terbiasa mengayuh sepeda tetapi perjalananku kali ini lain; aku akan menempuh jarak cukup jauh melintasi puluhan kota, ratusan jembatan, dan kerlip lampu merah di setiap perempatan. “Habiskan kopimu. Kita segera berangkat. Keraguan hanya akan membuat kamu tidak akan pernah beranjak pergi,” pinta Yogo, temanku yang akan menemaniku berpetualang kali ini.

Aku terperanjak kaget. Di hadapanku persis, secangkir kopi belum tandas habis kuminum. Segera, kuseruput sisa kopi di cangkir. Sepuluh batang rokok yang sudah kulumuri leletan kopi, tergeletak berjejeran di sebelah cangkirku. Perlahan, aku masukkan sebatang demi sebatang seperti sedia kala dalam bungkus rokok.

“Lagakmu aja sok jagoan! Apa kau sudah siap berpetualang?” tantangku tak mau kalah.
“Tak ada rintangan berat yang perlu untuk ditakuti bagi lelaki yang sedang patah hati,” sumbarnya, seperti tak takut dengan jarak tempuh cukup jauh yang hendak kami lalui. Jarak kurang lebih 250 km dengan mengayuh sepeda onthel.

Aku sadar, kepergianku dengan mengayuh sepeda sudah di pelupuk mata. Aku tak mungkin mundur. Aku tahu, ia juga tak akan mundur lantaran kami berdua seperti tak ingin dikata orang yang takut. Pada akhirnya, kami pun terpaksa harus membuktikan omongan kami yang sudah terlanjur terucap ketika seminggu yang lalu kami berencana tidak berpetualang bersama, melainkan berniat naik bus.

Tetapi rencana itu tiba-tiba berubah dalam sekejap. Rencana berpetualang mengayuh sepeda itu, bermula dari sebuah obrolan kesedihan --yang dialaminya pada malam kelabu seminggu yang lalu. 

“Aku lagi kalut dan dirundung sedih. Sebelum berangkat kuliah aku sebenarnya ingin melepas rindu, maka aku rela jauh-jauh bertandang ke rumah pacarku di Jombang. Maksudku, selain untuk mengobati rasa kangen juga sekaligus pamitan,” ujar Yogo memulai cerita. “Tetapi, malang benar nasibku. Bukan rasa kangenku terobati, justru setelah jauh-jauh menempuh perjalanan ke sana aku tidak bisa bertemu dengan kekasihku.”

Aku diam menunggu ia bercerita lebih jauh.

“Sampai di rumah kekasihku, ayahnya justru yang menerima kedatanganku. Aku diajak duduk. Lama, aku diam... menunggu kekasihku menyambut kedatanganku, tapi tak ada seulas senyum manis kekasihku menyembul dari balik pintu menyambutku. Justru, tak selang lama setelah ayahnya bertanya tentang keluargaku, ayahnya memintaku tak lagi datang menemui anaknya. Alasan yang dikemukakan ayahnya, anak gadisnya sudah dijodohkan dengan seorang tentara yang memiliki masa depan cerah dibandingkan diriku. Seketika itu, hatiku hancur. Siapa yang tak remuk redam mendengar kata-kata ayahnya seperti itu?”

Aku masih diam dirundung empati. Yoga juga diam. Dia sedih dan aku hanyut dengan kisahnya. Kami memang tidak cukup akrab, tidak pernah sekolah di sekolah yang sama. Yogo yang lebih cerdas dariku masuk SMU Negeri 1 Lasem –SMU Negeri di kota kelahiranku. Sedangkan aku yang berotak tumpul, terpaksa terdampar di SMU swasta. Kami seusia dan itu membuat kami kerap dipertemukan dalam sebuah petualangan. Jadi kami hanya teman sepermainan di kala pulang sekolah.

Tetapi, aku tak sanksi, bocah tengil lulusan SMU 1 Jombang yang ada di depanku itu memang tergolong tampan. Wajar jika dia mampu memiliki kekasih yang cantik dan ia pun mencintainya setengah mati. Sewaktu dia belum pindah sekolah ke SMU Jombang, tak sedikit cewek-cewek SMU kota kelahiranku yang menaruh hati padanya. Meski ia tak tergolong tinggi, ia memiliki tubuh atletis dengan rambut lurus yang berkilau. Hidung mancung, dan raut muka bersih yang tanpa jerawat. Siapa cewek yang tak terpesona? Tak bohong, kalau tak selang lama setelah dia pindah sekolah ke Jombang, ia dengan mudah mendapatkan kekasih baru sebab di SMU kota kelahiranku ia kerap gonta-ganti pacar.

Tetapi, sejak dia pindah sekolah ke Jombang itu, kami tak sering bertemu. Hanya sebulan atau dua bulan sekali kami bisa bertemu jika ia kebetulan pulang ke rumah. Dia terpaksa pindah sekolah ke Jombang, karena ia dulu tergolong bebal dan tidak taat pada aturan. Sewaktu sekolah mengadakan ujian kenaikan kelas, ia bersama dua temannya –Wek dan Bahar—kebetulan juga masih tetanggaku membuat ulah yang menghebohkan. Hari itu, kebetulan jadwal ujian matematika tapi sebelum ujian matematika itu dimulai, ketiga murid SMU bebal itu bertaruh di bawah tiang bendera.

Tiga anak SMU bengal itu merogoh uang dari sakunya masing-masing lima ribu rupiah lalu ditaruh di bawah tiang bendera. Perjanjian pun dibuat, siapa yang lebih dulu keluar dari kelas, dialah yang akan berhak mendapatkan uang taruhan itu. Bel ujian pun berdenting. Ketiganya masuk ruang ujian dengan dada berdegup. Tapi Yogo tak pernah peduli dengan nilai berapa pun yang diberikan guru pengampu pelajaran matematika dalam ujian. Tak lama setelah pengawas ujian membagikan soal dan lembar jawaban, Yogo buru-buru mengisi namanya. Ia tidak perlu mengerjakan soal ujian, hanya mengisi namanya dan mengumpulkan kertas lembaran yang masih kosong lalu bergegas keluar ruang ujian untuk mendapatkan uang taruhan lima belas rupiah di bawah tiang bendera.

Tidak mau kalah dan didera panik, Bahar dan Wek ikut-ikutan. Keduanya keluar ruangan. Ketiganya berlari dengan kencang demi mendapatkan “uang taruhan” di bawah tiang bendera. Sekolah pun heboh dengan ulah ketiga murid bengal tersebut, hingga ada keputusan tegas; sekolah akan menaikkan ketiga murid bengal itu dengan syarat pindah sekolah. Yogo memilih pindah ke SMU Jombang sebab itu membuatnya naik kelas. Tapi, Bahar dan Wek memilih tinggal di kelas dua dan tetap bisa sekolah di SMU Negeri 1 kota kelahiranku.

“Aku ingin berpetualang dengan cara yang menantang sebelum aku memutuskan ke Yogyakarta untuk serius kuliah, setidaknya aku ingin melakukan petualangan yang membuatku bisa lupa kesedihanku,” keluh Yogo membuyarkan lamunanku.
“Aku tahu jawaban akan keinginanmu itu!” jawabku tiba-tiba, membuat matanya melotot penasaran.
“Kau jangan bercanda, kali ini aku tidak main-main!”
“Aku juga tidak main-main.”

Ia menunggu jawabanku.

“Bagaimana jika kau dan aku naik sepeda onthel ke Yogyakarta, lagi pula Supri juga minta tolong padaku untuk memaketkan sepedanya. Bagaimana jika kau membawa sepeda Federal Supri dan aku membawa sepeda onthelku?”
“Tantangan petualanganmu aku terima, daripada aku sakit hati seperti ini.”

Obrolan kesedihan itu kemudian membuat kami sepakat naik sepeda menempuh jarak 250 km dari kota kelahiranku ke Yogyakarta. Dan kali ini, kami berdua menikmati secangkir kopi di warung untuk melepas kerinduan terakhir aroma kopi yang mungkin tidak akan kami rasakan lagi dalam waktu cukup lama. 

Aku kembali menatap ke arah jalanan, aroma angit yang sengau dari asap rokok yang dileleti kopi membumbung ke udara meninggalkan aroma ganjil cukup menyengat hidung. Aku tak ingin terkenang aroma sengau leletan kopi di sebatang rokok itu, maka sebelum bergegas pergi untuk merantau ke kota Yogyakarta, aku meluangkan waktu di warung kopi lebih dulu.

Tapi rencana yang telah kami susun tidak akan pernah mematahkan dendam dan kesumat di hati kami. Setelah kami melepaskan rasa kangen terakhir minum kopi, kami berdua siap memanggul tas di punggung yang penuh dengan dendam --pergi mengayuh sepeda dengan jarah cukup jauh.

“Sekarang, saatnya kita harus berangkat, atau kita tak pernah mengukir sejarah dalam hidup kita yang sementara ini,” ajak Yogo seraya mematikan sisa rokoknya yang hampir habis.
“Tak hanya itu, kau juga akan bisa melupakan sedih dan patah hatimu,“ seruku.

Kami berdua kemudian keluar dari warung kopi. Kami berdua meraih sepeda masing-masing, menaiki pedal dan membusungkan dada.

Pagi itu, aku dan Yogo meninggalkan kota kelahiranku dengan mengayuh sepeda. Aku mengayuh sepeda tua –sepeda onthel tua yang dahulu dijadikan oleh ayahku untuk berjualan pakaian ke beberapa pasar kecamatan berdasarkan weton. Kini, sepeda tua itu aku gayuh untuk pergi merantau. Sedang Yogo mengayuh sepeda Federal milik Supri, teman kami yang sedang kuliah di Yogyakarta. Kami berdua mengayuh dengan kencang sepeda masing-masing dan kami tak ingin menoleh; sebab kami memang ingin pergi jauh, jauh seakan-akan kami tak punya rumah untuk kembali pulang. ***

---------------------------------
N. Mursidi / Condet, 2009-2010
*Cerita pendek ini dimuat di koran Minggu Pagi edisi 2 September 2012

0 comments:

Posting Komentar

 
Toggle Footer