Breaking News
Loading...
Sabtu, 27 April 2013

Membebaskan atau Membatasi

Membebaskan atau Membatasi

Kenapa kita dilarang mabuk-mabukan? Bagi yang terang cara berpikirnya, maka dengan jelas bisa tahu bahwa peraturan, dilarangnya hal tersebut demi kebaikan kita sendiri. Peraturan tersebut justeru membebaskan manusia. Eh kok bisa? Peraturan kok membebaskan? Dilarang kok membebaskan? Iya, bisa, membebaskan dari kemungkinan berbuat lebih buruk akibat pengaruh minuman keras. Membebaskan dari dampak merusaknya. Semua akal sehat pasti paham, betapa besarnya resiko dan potensi merusak orang mabuk. Kalau tidak merusak orang lain, maka jelas merusak diri sendiri.

Tapi bagi yang sempit dan gelap cara berpikirnya, maka dengan jelas, seketika menolak larangan tersebut. Ada banyak argumennya, mulai dari dia merasa memiliki manfaat, bisa menghangatkan tubuh, bisa jadi obat, bisa bikin kreatif, hingga argumen putus asa: urus saja urusan masing-masing. Bagaimana mungkin kita disuruh urus saja masing-masing? Ketika si pemabuk ternyata mengendari kendaraan bermotor, lantas membuat kecelakaan maut di jalan? 

Jika kalian masih remaja, maka penting sekali memahami sebuah peraturan, sebuah larangan, ataupun sebuah perintah, dari sudut pandang positif. Karena tanpa sisi positif itu, apapun bisa dibantah, apapun bisa dibalik-balik semaunya saja. Dan kunci pertama kali memahaminya adalah: peraturan justeru membebaskan.

Kenapa wanita disuruh mengenakan kerudung? Kenapa wanita harus dipisah dari laki-laki? Ini jelas sekali tergantung dari kaca mata orang memahaminya. Bagi yang paham, maka dia bisa menjelaskan bahwa peraturan tersebut justeru 'membebaskan' wanita. Peraturan itu justeru menjaga wanita agar bebas berkegiatan, tidak pernah menghilangkan hak beraktivitas, hak mengembangkan diri, apalagi hak pendidikan, dsbgnya, yang sekaligus memberikan batas, proteksi atas kehormatan mereka. Indah sekali, bukan? Membebaskan sekaligus proteksi efektif. Tapi bagi yang tidak mau paham, maka dia bisa membawa bertumpuk amunisi argumen bahwa itu membatasi, diskriminatif, tidak sehat, dsbgnya. 

Kenapa kita yang masih remaja dilarang keluar malam-malam? Bagi yang paham maka segera tahu kalau itu justeru akan 'membebaskan' kita. Membebaskan kita dari dampak buruk pergaulan, hal-hal sia-sia, bahkan boleh jadi kegiatan yang merusak dan menjerumuskan. Itu jelas sekali sebuah pembebasan. Bagi yang tidak mau paham, maka peraturan itu baginya jelas sekali: membatasi, memasung, tidak demokratis, memangnya zaman bahuela? memangnya ini negeri militer? memangnya ini diktator? terserah-serah saya dong. Selalu begitu. 

Juga untuk semua peraturan2 lain yang bertujuan baik, lurus dan tidak melanggar kaidah agama, norma dalam masyarakat. Sama posisinya. Sama penjelasannya. Pun sama cara orang2 menanggapinya.

Nah, saya tidak akan berpanjang lebar, karena jelas, tulisan ini hanya bagi yang mau memahaminya. Bertanya, mencari jawaban. Bukan bertanya, untuk menebalkan argumen masing-masing. Maka saya akan menutupnya dengan kalimat simpel: orang-orang yang bahkan memuliakan dirinya sendiri pun tidak mau, maka tidak akan pernah bisa memuliakan sebuah peraturan yang bertujuan baik.

-Tere Lije Note-

0 comments:

Posting Komentar

 
Toggle Footer