Breaking News
Loading...
Kamis, 05 September 2013

Bahaya Taqlid Bahaya Ijtihad

Bahaya Taqlid Bahaya Ijtihad
IPNU Trenggalek - Sudah sepekan ini warga kampung Tikusan dan sekitar diguncang keresahan, kebingungan dan ketegangan. Pasalnya, sudah hampir dua pekan ini muncul ustadz baru bernama Syamsuddin Salam Al-Fa’run yang menyampaikan pandangan-pandangan, gagasan-gagasan dan ajaran-ajaran yang menurutnya progresif, modern dan universal, tetapi menurut warga justru ajaran yang aneh. Selain menganggap bid’ah berbagai kegiatan sesat yang dilakukan warga seperti tahlilan, selametan, sholawatan, ziarah kubur, peringatan maulid Nabi Saw, ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run mengecam sikap bodoh warga dalam bertaqlid mengikuti ajaran ulama tertentu, di mana keresahan dan kebingungan itu menjadi ketegangan setelah mereka menonton tayangan Khazanah bertema Taqlid  di televisi milik Wahhabi.

Keresahan, kebingungan dan ketegangan warga Tikusan  tidak hanya berhubungan dengan kesenangan ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run  mencela, mengecam, menghujat, mencaci-maki, dan menjadikan bahan olok-olokan semua tradisi keagamaan yang dijalankan warga, melainkan yang sangat mengherankan dan sulit difahami warga,  ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run itu adalah warga asli kampung Tikusan bernama Suryono Slamet yang dua-tiga tahun lalu meninggalkan kampung untuk bekerja di ibukota tetapi tiba-tiba pulang dengan identitas ustadz dan namanya diubah menjadi Syamsuddin Salam dengan ditambah Al-Fa’run.

Untuk menghindari ketegangan memuncak, Sufi tua yang mewakili Guru Sufi mengundang ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run untuk menyampaikan ceramah agama di Pesantren Sufi dengan tema ‘Berbahayanya Taqlid bagi Tauhid’. Dengan diikuti sepuluh orang muridnya ustad Syamsuddin Salam Al-Fa’run menyampaikan ceramah di Pesantren Sufi, yang ternyata selain diikuti para santri juga dihadiri ratusan warga kampung yang berdesak-desak sampai ke halaman.

Dengan keyakinan diri tinggi ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run memulai ceramah agamanya dengan menayangkan ilustrasi film lewat LCD projector yang diikuti ilustrasi narator yang menghamburkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits yang mendukung pandangannya bahwa Taqlid itu tindakan bodoh yang tidak saja sesat tetapi juga membahayakan Tauhid, karena dengan taqlid orang bisa mengkultuskan dan menyembah manusia lain sebagaimana umat Nabi Luth AS, umat Fir’aun, penganut agama Yahudi, dan berbagai golongan agama yang mengkultuskan imamnya, ulamanya, kyainya, gurunya, ustadznya. Dengan kefanatikan membuta akibat taqlid, pecah perselisihan di antara umat Islam karena masing-masing menganggap benar dan mengunggulkan golongannya, di mana semua penjelasan ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run diikuti tayangan film FPI saat melakukan sweeping, tawuran pelajar, tawuran antar suporter, tawuran antar warga kampung, aksis demonstrasi ikhwanul muslimin di Mesir, dan lain-lain yang membuat para santri dan warga kampung Tikusan manggut-manggut.

Ketika acara tanya-jawab tiba, ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run tersentak kaget ketika mendapati hampir seluruh santri dan warga kampung berdiri sambil mengacungkan tangan. Sebelum ditentukan siapa yang bertanya lebih dulu, Marholi yang mengaku bernama Summu Al-Fa’ri, tanpa perduli keberatan santri yang lain  menyampaikan pendapatnya yang pada dasarnya sangat setuju dengan pandangan ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run. Summu Al-Fa’ri mengaku bahwa ia seorang yang buta huruf Arab yang membaca Al-Qur’an berdasar terjemahan sehingga di dalam memahami Al-Qur’an ia mendapati banyak perbedaan dengan orang-orang pesantren yang taqlid buta terhadap kyai. “Soal tayyamum, misal, santri-santri ngotot harus menggunakan debu yang menempel di kaca jendela, dinding, daun pintu, dan lain-lain. Sewaktu saya usul menggunakan bedak yang lebih suci, usul saya ditolak dengan alasan bedak itu bukan debu. Jadi saya setuju pandangan ustadz, bahwa kita harus bebas berijtihad sesuai kemampuan kita agar kita tidak menjadi bodoh dan dibodohi ulama,” kata Summu Al-Fa’ri.

“Setuju ustadz,” sahut Roben yang mengaku bernama Akhi Summu Al-Fa’ri menyela,”Saya setuju tidak perlu lagi ada ulama, mursyid, kyai, guru, ustadz, karena di era teknologi canggih ini kita bisa belajar mengaji, baca tulis Al-Qur’an, tafsir Qur’an, dan berbagai jenis peribadatan agama melalui program-program yang dikemas dalam software komputer. Karena itu, tanpa perlu, saya sudah bisa memahami ajaran Islam lewat paket-paket pengajian yang bisa kita unduh di You tube. Sungguh, tanpa guru sejatinya kita masing-masing bisa berijtihad.” 

“Saya juga setuju ustadz,” sahut Niswatin dengan suara tinggi. ”Larangan menggambar makhluk hidup dengan alasan nanti di akhirat disuruh memberi nyawa, sudah tidak relevan. Tayangan film yang baru ustadz tayangkan, itu sudah merupakan bukti bahwa manusia dengan teknologinya bisa memberi nyawa kepada gambar-gambar makhluk hidup sampai teknologi itu disebut Bioscoop (gambar hidup). Jadi saya menganggap larangan itu sudah tidak relevan dengan perkembangan evolusi manusia menuju kesempurnaan sebagai makhluk sempurna (human being). Ayo kita kumpulkan semua dalil-dalil agama yang sudah tidak relevan untuk kita tinggalkan jauh-jauh dari kehidupan kita.” 

Mat Koneng, ketua Remas Mushola Al-Fa’sun kampung Tikusan, yang masih adik sepupu ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run tiba-tiba berteriak keras,”Saya mendukung pandangan saudara saya yang maju dan modern ini. Di tengah perubahan global, kita tidak boleh lagi bergantung kepada ulama, kyai, mursyid, guru, ustadz, imam, atau siapa pun di antara manusia yang dijadikan berhala panutan. Karena itu, saya mohon dengan hormat, agar saudara Suryono Slamet yang berganti nama Syamsuddin Salam Al-Fa’run  itu turun dari mimbar untuk tidak lagi menceramahi jama’ah. Sebab dia sesungguhnya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa yang punya wewenang mengajar, memberi petunjuk, mengarahkan, membimbing, dan menuntun umat yang bebas melakukan ijtihad sendiri. Hidup kebebasan. Hidup liberalisme! Hidup Islam Trans-nasional! Hidup Islam tak bermazhab!”

Suasana gaduh pun pecah. Jama’ah serentak berdiri dan saling berdebat satu sama lain membincang aneka permasalahan dengan membenarkan pandangan masing-masing. Mereka berdebat seru soal khilafiyah, khilafah, demokrasi, suporter bola, premanisme, sekolah, tawuran antar sekolah gara-gara rebutan pacar, pengangguran,  musik rock, dangdut, pop, dan jazz,  dengan bersikukuh kepada kebenaran argumen masing-masing hasil ijtihad sendiri. Beberapa jenak kemudian meletus kegaduhan ketika para santri dan warga kampung Tikusan terlibat adu jotos karena saling bersikukuh mempertahankan kebenaran ijtihadnya.

Melihat suasana bakal kisruh, Sufi tua melompat ke mimbar dan menyambar mike yang tergeletak di depan ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run yang kebingungan menyaksikan kegaduhan pecah di sekitarnya. Dengan suara tinggi yang menggema di loudspeaker Sufi tua menyerukan sholawat berulang-ulang. Santri dan warga kampung yang terlibat keributan dan bahkan adu jotos berhenti saat sholawat dikumandangkan kali ke empat dan mereka serentak menyahuti sholawat.

Tak menunggu waktu, setelah melihat suasana tenang, Sufi tua berseru mengutip Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 43,”Fas-aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun – bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu. Ini perintah Allah. Jangan takkabur merasa sudah pintar terus berijtihad sendiri, padahal membaca al-Qur’an saja dari terjemahan. Ketahuilah, bahwa Allah telah bersabda: innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ‘ulama – sesungguhnya yang takut kepada Allah daripada hamba-Nya adalah ‘ulama (Q.S.Fathir:28). Jadi keberadaan ‘ulama itu nash di dalam Al-Qur’an. Kalau kalian ramai-ramai mau meninggalkan ‘ulama dan tidak mau bertanya tentang agama kepada mereka karena beralasan sudah modern, maka hapuslah semua kosa kata ‘ulama, ulul albab, ulul ilmi, ahli dzikri, mursyid, wali yang tercantum di dalam Al-Qur’an terus angkatlah diri kalian sebagai nabi-nabi dan rasul-rasul baru karena kalian sudah memiliki kewenangan mutlak untuk menafsir, memaknai, merubah, bahkan menghapus ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan hasil ijtihad kalian.”

Beberapa bentar suasana tenang. Para santri dan warga kampung duduk kembali. Tetapi sebagian di antara mereka terlihat celingukan, mencari-cari ustadz Syamsuddin Salam Al-Fa’run dan murid-muridnya yang ternyata sudah tidak terlihat lagi bayangannya.

Penulis : Agus Sunyoto
Sumber: pesantrenglobal.com

1 comments:

  1. Bukan meninggalkan Ulama, maksudnya ikuti Ulama yang berilmu, yang pendapat dan fatwanya tidak bertentangan dengan Al-Qur`an dan Assunnah.

    BalasHapus

 
Toggle Footer