Breaking News
Loading...
Senin, 05 Juni 2017

Surat Terbuka untuk Afi Nihaya Faradisa

Gus Zahro
Pengirim: Zahro Wardi.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebelumnya Acungan jempol 10 jari untuk adik Afi yg sekarang jadi remaja terkenal dan sukses. Kesuksesan dan ketenaran buah dari aktif menulis di Face Book tentang Pluralisme, Nasionalisme dan Sosial-Agama, dan tentu yg fenomenal adalah tulisan berjudul "Warisan". Penghargaan silih berganti telah diberikan baik oleh Pejabat, Politisi, stasiun-stasiun Telivisi maupun kalangan akademisi. Bahkan Bapak Presiden-pun sudah memberi apresiasi.
Setelah konon tidak kurang dari 20.000 orang yg membagikan maupun yg menanggapi tulisan tsb,

Izinkan aku yg sama sekali bukan siapa2 ini menilai "Warisan" dari sudut pandang Agama Islam (baca, Fiqh). Dan tentu saja tidak menutup kemungkinan ada penilaian dan pemahaman yg salah. Dan bl itu terjadi, mohon dikoreksi.
Begini Adik Afi.... (yang selanjutnya saya menyebut Si Penulis)....
Dari isi tulisan yg berjudul "Warisan" paling tidak ada 3 Poin yg perlu kita diskusikan:

*PERTAMA*, Keberhasilan pembentukan opini tulisan ini nampaknya melampaui tujuan si penulis. Dimana tujuan awal pesan yg disampaikan dlm tulisan ini adalah agar kita selalu saling menjaga ke beragaman dan mempertahankan keutuhan NKRI. Namun disadari atau tidak uraian2 yg penulis sampaikan sudah mengarah ke wilayah ranah aqidah. Ini bagus dan sah-sah saja. Hanya saja "mengesankan" ke-islaman dan ke-imanan seseorang sebagai warisan dan faktor lingkungan adalah terlalu "dangkal". Padahal yang paling menentukan keimanan seseorang adalah "Hidayah" dariNya. Kalau benar islam dan iman itu adalah warisan tentu islam tidak akan berkembang di tengah2 penduduk Atheisme dan Animisme (Arab) saat itu. Islam sulit berkembang di hegemoni hindu budha di Jawa. Abu Jahal&Abu Lahab paman Nabi, Kan'an Putra Nabi Nuh tentu jadi Mukmin. Asiyah istri Firaun tentu akan hilang ke imananya. Di Desaku ada 10 Orang (penduduk asli) beragama kristen dari 7500 jumlah penduduk yg semua beragama islam. Keluarga Jamal mirdad Lidia Kandaw, keluarga besar Hari Tanu adalah contoh keluarga multi agama. Jadi sekali lagi ke-imanan seseorang adalah urusan "hidayah" dan kemauan berfikir dg benar (baca: ikhtiyar) dari yg bersangkutan, bukan warisan, lingkungan, apalagi kebetulan.

*KEDUA*, Sebenarnya dalam menulis si penulis Memposisikan diri sebagai "Siapa"?? Bila ia memposisikan sebagai penganut agama islam, dan ia berkeyakinan semua agama adalah benar, tentu ini kesalahan fatal. Mestinya kebenaran agama tdk mengenal "Perselingkuhan" maupun "Poligami". Sebab ketika seseorang menilai semua agama benar, sementara ia adalah penganut salah satunya maka sesungguhnya ia tidak meyakini bahwa agamanya-lah satu2nya yg benar dan harus dianutnya. Alloh Maha Esa tidak boleh diduakan. Nabi Muhammad Nabi terakhir tidak boleh ada nabi lain sebagai panutan. Kitab Al-quran sebagai pegangan bukan yg lain.

Agama berkaitan dg keimanan, dan pilihan mana agama yg diyakini kebenaranya.

Berikutnya, bila penulis memposisikan sebagai "Wasit atau Hakim", dasar apa yg dibuat sehingga menilai semua agama benar??

Bolehkah ia memposiskan diri sebagai "Wasit Netral" sementara ia mengaku penganut agama tertentu??

Kalau ini dibenarkan tentu penulis menerapkan standar ganda dalam hal ini. Satu sisi -dalam tulisannya- ia melarang orang beragama berkeyakinan hy agamanya-lah yg benar dan bisa membawanya masuk surga, sementara ia juga membuat keyakinan yg lain bahwa semua agama adalah benar dan bisa membawa pemeluk agama apapun bisa masuk surga.

Dalam tulisannya penulis mengambil kata2 Mutiara seorang Sufi besar Jalaludin ar-Rumi tentang subyektifitas kebenaran. Tapi seharusnya tdk digunakan hujjah untuk pembenaran bahwa semua agama adalah benar. Sebab beliau tidak berpendapat seperti itu. Bahkan sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Dizamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib.Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan agama islam, bisa menjadi goyah.

*KETIGA*, Yang perlu difahami dan diyakini adalah bahwa memang benar Alloh menciptakan dan menjaga segala hal didunia ini agar makhluknya punya kebebasan memilih. Akan tetapi bukan berarti semua yg dipersilahkan untuk dipilih itu baik dan benar. Semua ada konsekwensinya, ada balasannya, baik memilih yg buruk maupun yg baik. Dengan sifat "Rahmatnya" Alloh telah mengutus Nabi dg kitab sucinya untuk menjelaskan mana yg baik dan mana yg buruk. Sesuatu yg salah dan buruk tidak hanya diukur dg akal manusia, akan tetapi lewat ketetapanNya. Sekalipun kadang hal tsb tdk mengganggu yg lain, sekalipun pula diyakini benar oleh pelakunya. Mengatakan bahwa Alloh-lah yg menciptakan dan memelihara kelangsungan agama Islam, hindu, buda, Katolik, Protestan, sinto, Konghuchu dll, sehingga hal ini menunjuk kan semua adalah benar dan boleh dipilih, sama artinya jika ia mengatakan bahwa semua makanan, minuman dan jenis aktifitas yg oleh Alloh di jaga keberadaanya sampai saat ini adalah halal dan boleh dipilih sesuai keyakinan masing2. Jadi silahkan makan daging babi bila keyakinan anda itu halal. Silahkan berzina, jadi PSK dan Penjudi bila menurut keyakinan anda itu benar. Bukankah kebenaran itu relatif?? Bukankah hal2 diatas tidak mengganggu orang lain?? Bukankah tidak semua UU yg dibuat manusia melarang hal-hal diatas??

Nah, natijah2 (kesimpulan) seperti itu kan menyesatkan.
Saya khawatir, dg tulisan si penulis seperti itu akan banyak orang akan ragu akan kebenaran agama yg selama ini diyakini dan dianutnya. Akan banyak orang bergonta ganti agama sebab semua benar dan menjanjikan keselamatan dunia dan akhirat. Na'udzubillah min zdalik.....

Sho, inilah pentingnya *Fanatisme beragama dan berakidah*.
Memang benar saling menghormati antar pemeluk agama adalah keniscayaan. Menjaga empat pilar Bangsa: NKRI, UUD 45, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah kewajiban.

Adik Afi.....
Saya adalah warga Nahdliyin tulen. Diberbagai kesempatan saya juga berusaha me-Nusantarakan Islam dan menanamkan Islam Nusantara. Sebab kita lahir dan hidup dibumi Nusantara. Nilai-nilai islam harus kita bumikan di sini dg tetap menjaga rasa Nusantara, bukan rasa Arab.

Namun, tidak harus dengan mencampur aduk kan keyakinan dalam beragama.
Teruslah berkarya lewat penamu. Tanamkan jiwa Nasionalisme pada para anak Bangsa yg kini mulai pudar, mumpung kini Kau jadi idola dan ikon 500 ribu lebih yg aktif membaca tulisanmu. Semoga NKRI tetap jaya dalam ke-Bhinekaanya yg religi dan naungan Rahmat Alloh SWT. Amiin..

Semoga tulisan ini ada yg bisa menyampaikan ke Adik Afi.... Sehingga menjadi masukan yg bernilai. Semoga.....

Wassalamu'alaikum Wr. wb.

(3 Juni 2017, Zahro Wardi, Trenggalek).

0 comments:

Posting Komentar

 
Toggle Footer